Selasa, 12 Juni 2018

KITA DIPERMALUKAN OLEH STAQUF

Kalau Staquf ke Israel mewakili umat Islam non-politik non-negara untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Palestina melalui diplomasi jalur kedua, pasti Staquf akan jadi pahlawan. Tetapi dia ke Israel untuk bicara pada acara yang diadakan oleh American Jewish Community (AJC) yang merupakan organisasi advokasi bangsa Yahudi di Amerika. Artinya apa pun yang akan dikatakan Staquf dalam forum mengenai Palestina, ibarat menggarami lautan karena AJC sendiri tak akan mendengar kata Staquf karena tujuan AJC untuk membela bangsa Yahudi.

Alih-alih bisa membuat umat Islam sedunia bangga atas undangan ini, malah kehadiran dia di sana menimbulkan kemarahan. Karena bagaimana mungkin bicara perdamaian di atas tanah jajahan Israel yang diikuti oleh pembantaian yang brutal? Memangnya siapa Staquf sehingga merasa mampu mempengaruhi jalannya kezaliman di Palestina, sementara PBB dan komunitas internasional tidak dihiraukan sejak lama oleh Israel?

Staquf adalah simbol kekonyolan baru yang tak terperikan. Dia diperalat oleh lembaga advokasi Yahudi tetapi dia merasa sedang berjuang untuk bangsa Palestina.

Yang lebih konyol lagi, bagaimana mungkin Staquf akan berjuang demi bangsa Palestina dan Islam sementara dalam pembicaraannya di forum dia menyebut Al Quran adalah dokumen sejarah yang harus diubah agar bisa relevan ajarannya dengan tuntutan zaman? Pandangan ini adalah khas pandangan kaum liberal dalam memahami teks kitab suci. Inilah cara pandang yang diharapkan oleh pengundangnya. Karena di Barat hermeneutika atau tafsir demikianlah yang menjadi arus utama.

Bagaimana mungkin mengharapkan keharuman Islam dari orang yang meragukan kebenaran kitab sucinya dengan menyebutnya sebagai dokumen sejarah? Bagaimana mungkin mengharapkan pembelaan saudara seagama dari orang yang otaknya sudah dicuci sesuai dengan cara berpikir musuh Islam?

Alhasil, kehadiran Staquf di Israel tidak membawa nilai tambah apa pun. Malah justru mempermalukan Indonesia dan umat Islam di mata internasional. Karena Staquf tidak cuma menjadi pengurus teras PB NU, tetapi juga adalah salah seorang anggota Wantimpres.