Rabu, 05 September 2018

Jawaban Ustaz Somad Atas Saran Lapor ke Kepolisian

Ancaman dan intimidasi terhadap Ustaz Abdul Somad yang berakibat dibatalkannya rangkaian tausiyah di beberapa daerah, menuai simpati berbagai kalangan. Somad pun disarankan melapor ke polisi agar aksi persekusi tak sebatas direspons lewat 'curahan hati' (curhat) di media sosial.

Mabes Polri telah berulang kali menyarankan Somad membuat laporan ke polisi. Kepala Badan Reserse Kriminal Markas Besar Polri Inspektur Jenderal Arief Sulistyanto pada Selasa (3/9), mempersilakan ustaz kondang itu untuk melapor.

"Ya kalau ada ancaman, dipersilakan melaporkan kepada polisi," ujar Arief di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (4/9).

Ia pun mengaku belum menerima laporan karena baru saja kembali ke Tanah Air setelah kunjungannya ke Brunei Darussalam. "Saya baru pulang dari Brunei. Dari hari minggu saya berangkat ke sana bersama pak Kapolri, dan karena ada panggilan, maka baru tadi pagi saya baru pulang dari Brunei," katanya.

Sehari sebelumnya, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Polisi Setyo Wasisto menuturkan, polisi akan melakukan penindakan bila intimidasi yang dirasakan Abdul Somad dilaporkan. Pasalnya, untuk menyelidiki pelaku intimidasi, polisi membutuhkan keterangan langsung Abdul Somad.

"Kalau dia tidak lapor maka polisi tidak akan menangani. Nanti kalau misalnya kita minta keterangan tapi beliau tidak datang, kita susah juga kan. Kan diundang untuk diperiksa, diminta keterangan nanti susah," ujar Setyo.

Desakan agar Ustaz Somad melapor ke polisi datang dari para politikus. Politikus PDIP Eddy Kusuma Wijaya menilai, penyelesaian kasus persekusi terhadap Somad lewat jalur hukum bisa mencegah gejolak di masyarakat terhadap spekulasi pihak yang mengancam Somad.

"Sebaiknya Ustaz Somad dia laporan langsung ke polisi. Supaya polisi bisa langsung melakukan penyidikan sehingga membuat terang persoalan itu. Jangan sampai nanti, jadi saling menjelekkan," ujar Eddy di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (4/9).

Menurut Eddy, kepolisian wajib menindaklanjuti laporan tersebut dan memastikan setiap warga negara berhak menyampaikan pendapatnya. Sebab, ancaman terhadap Somad juga berpotensi memunculkan gejolak di masyarakat.

"Kalau itu berbahaya dan dapat memunculkan gejolak, ya polisi wajib melarang dan wajib mengamankan org yg menerima intimidasi itu. Sebaiknya ustaz Somad lapor ke polisi sehingga bisa dilakukan penyidikan," katanya.

Sekretaris Jenderal PKB Abdul Kadir Karding juga meminta Somad melapor ke polisi. Namun, jika Somad tak melapor, Karding berharap pihak kepolisian bisa bersikap pro aktif

"Paling penting adalah segera dilaporkan kepada polisi," kata Karding.

Ia juga menambahkan, mendukung penuh Ustaz Somad untuk terus berdakwah tanpa rasa takut dan tanpa khawatir. Karding menilai, dakwah Ustaz Somad masih dalam bingkai NKRI.

"Saya mendukung saja, intinya kami dibelakang Pak Ustaz Somad, enggak usah khawatir," imbuh Abdul Kadir.

Ketua DPP Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir berharap Ustaz Somad bisa terbuka terkait ancaman dan intimidasi yang dia alami. Menurut Inas, tanpa ada keterbukaan informasi akan menimbulkan masalah baru di masyarakat.

“Sampai saat ini saya belum tahu siapa pelaku persekusi itu. Dari mana dan ormas mana, harus dicek betul atau tidak,” kata Inas saat dihubungi, Selasa (4/9) siang.

Dia menilai, pernyataan Ustaz Somad yang tidak tuntas akan berujung pada praktik pemelintiran informasi bahwa seolah didalangi oleh pemerintah. Hal itu memungkinkan terjadi mengingat situasi saat ini yang cukup sensitif mengenai keagamaan.

Menurut dia, sebagian orang pun justru menjadi curiga kepada Ustaz Somad akan kebenaran pernyataan tersebut. Sebab, pernyataan yang dilakukan melalui media jejaring sosial tidak sepenuhnya diamini publik dan bisa menimbulkan multitafsir.

Beberapa partai dan sejumlah pihak menilai kejadian yang menimpa Ustaz Somad mencederai demokrasi. Namun, bagi Inas belum bisa disebut demikian. Sebab, belum terbukti dan diketahui terkait kebenaran intimidasi serta ancaman yang dialami alumni Universitas Al-Azhar, Mesir itu.

“Pak Ustaz kan banyak rombongannya dan ada yang mengawal juga. Lantas, siapa yang mengintimidasi? Saya menyarankan segera dibuat laporkan ke kepolisian,” kata dia.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai, munculnya ancaman atau intimidasi yang dirasakan oleh para pendakwah merupakan perjuangan di jalan Allah. Ketua Komisi Dakwah MUI, Cholil Nafis mengatakan perjuangan bagi pendakwah bentuknya bermacam-macam.

“Saya melihat cobaan sebagai pendakwah. Nabi saja sampai dilempari, cobaan dakwah macam-macam. Karena sesuatu yang dialami benar belum tentu baik disampaikan masyarakat dan bermanfaat. Oleh karena itu pandai-pandailah kita sebagai ustaz menciptakan kemashalatan masyarakat di tengah media komunikasi yang sangat masif ini,” ujarnya ketika dihubungi Republika, Selasa (4/9).

Menurutnya, seorang pendakwah juga harus memahami dinamika sosial yang terjadi di tengah masyarakat. “Saya secara pribadi tidak setuju dan melawan persekusi apalagi penghadangan terhadap dakwah, cuma masyarakat isinya macam-macam maka harus ditegakkan hukum, menjadi ustaz lebih tinggi dari awam yang bisa memahami dinamika sosial,” ucapnya.

Untuk itu, ia meminta para pendakwah tidak menyampaikan kekecawaan dalam hal apapun di media sosial. Apabila merasa mendapat ancaman maka segera melaporkan ke aparat penegak hukum.

“Jika menjadi kiai atau pendakwah curhat di tengah malam kepada Allah jangan curhat di media sosial. Apalagi di tahun politik pandai menjaga stabilitas dan ketentraman masyarakat,” ungkapnya.

Adapun, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Sulton Fatoni menilai penolakan ceramah Ustaz Somad di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur bukan sesuatu yang luar biasa. Menurutnya, hal ini banyak terjadi kepada para penceramah dan merupakan cobaan untuk mengajak masyarakat ke jalan kebaikan.

"Yang namanya berdakwah itu mengajak, ada yang mau ada yang tidak. Enak kalau semuanya mau. Makanya seorang pendakwah itu memerlukan kekuatan spiritual, materi dan immateri. Biasa seperti itu," ujar Sulton, Selasa (4/9).

Sulton menjelaskan, berdakwah dan mengajak masyarakat kaitannya dengan masyarakat dan pastinya ada yang mau ada yang tidak. Ada yang mendukung, namun ada juga yang mengganggu. Hal yang terpenting, selama prinsip ustaz atau kiai itu benar, ya harus dihadapi.

"Kalau ada keraguan, tentunya jangan diteruskan. Karena menghadapi tantangan itu bergantung pada seberapa kuat internal diri kita mengatasinya," tuturnya.

Sulton mengungkapkan, penolakan ceramah juga sering dialami oleh para kiai dan ustaz dari kalangan NU. Ada yang dihadang untuk tidak datang, motornya dicuri, panggungnya disantroni hingga roboh. Semua itu merupakan cobaan bagi para penceramah.

Para kiai yang selama ini mengalami penolakan juga dapat mengatasinya dengan cara-cara mereka. Misal, kiai yang pelaku tarekat, tantangannya dihadapi dengan wiridan atau membaca ayat-ayat alquran. Ada kiai yang pendekatannya fikih, dilihat persoalan yang dihadapi ini karena apa, lalu dia tangani.

Lalu ada yang pendekatan sosial budaya. Kiai yang selama ini kuat di ranah ritus budaya masyarakat, tantangan itu biasa dihadapi dengan kekuatan latar belakangnya. Tiba-tiba datang di malam hari dan melakukan komunikasi dengan masyarakat.

"Di NU penyelesaiannya bergantung pada style kiai-nya, kuat karakternya di aspek apa. Jadi ini hal biasa. Kalau menganggap hal ini luar biasa ya berhenti saja jadi pendakwah," kata Sulton.

Respons Ustaz Somad

Ustaz Abdul Somad mengungkapkan, dirinya tidak berencana melaporkan pihak-pihak tertentu yang mengintimidasinya baru-baru ini ke kepolisian. Menurutnya, pelbagai upaya hukum yang pernah dilakukannya hanya berujung ketidakjelasan sejauh ini.

“Tidak (berencana melapor ke polisi). Saya mau tenang saja. Capek. Dugaan persekusi Bali belum selesai-selesai (penanganannya),” kata Ustaz Abdul Somad saat dihubungi, Selasa (4/9).

Kasus yang dimaksudnya adalah kejadian pada 8 Desember 2017 lalu, ketika ratusan simpatisan Laskar Bali menggeruduk hotel tempat dai tersebut menginap di Denpasar. Beberapa hari kemudian, pimpinan organisasi tersebut meminta maaf kepada Ustaz Abdul Somad atas kejadian yang tidak menyenangkan itu.

Walaupun permohonan maaf sudah diterima, pada 11 Desember 2017 sejumlah pihak tetap melaporkan kasus dugaan persekusi tersebut ke kepolisian. Sampai sekarang, kejelasan penyelesaiannya tidak kunjung menemukan titik terang.

Kali ini, alumnus S-1 Universitas al-Azhar (Mesir) itu kembali menerima intimidasi dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Bahkan, Ustaz Abdul Somad terpaksa membatalkan rencana ceramahnya pada sejumlah lokasi di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta. Bagaimanapun, dia enggan menyebut nama kelompok-kelompok yang berupaya menghalang-halangi safari dakwahnya di tiga provinsi itu.

Mubaligh yang lahir di Silo Lama, Asahan, Sumatra Utara, 41 tahun silam itu menilai, ada jalan yang lebih bijaksana selain jalur hukum untuk ditempuh. Alumnus S-2 Darul Hadits (Maroko) itu memilih untuk tidak melawan balik persekusi yang ada. Dia tidak ingin ada gesekan di tengah masyarakat, khususnya umat Islam.

“Mengalah saja. Allah ada,” kata peraih anugerah Tokoh Perubahan Republika 2017 itu sembari menutup pembicaraan.


Sumber Berita :