Senin, 01 April 2019

Politisi Partai Demokrat Andi Arief mengkritisi pernyataan AM Hendropriyono

PA212.net, Jakarta - Politisi Partai Demokrat Andi Arief mengkritisi pernyataan AM Hendropriyono, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN).

Hendropriyono menyebut bakal terjadi pertarungan dua ideologi berbeda saat Pemilu 2019, yakni ideologi Pancasila berhadapan dengan ideologi khilafah.
"Pak Luhut lebih banyak bisnis sejak berhenti sebagai tentara, Pak Hendro tanpa ada isu khilafah pernah menyakiti umat Islam di Talang Sari Lampung. Saya tidak akan menyimpulkan keduanya anti Islam," tulis Andi Arief di akun Twitter @AndiArief__, Jumat (29/3/2019).

"Sepanjang yang saya tahu, jendral-jendral yang mau berkeringat mendirikan partai sebagai jalan berkuasa dalam era reformasi WIranto, SBY, Prabowo, Sutiyoso tidak ada track record menyakiti umat Islam dan minoritas. Hanya jendral yg menunpang di PDIP yang diskriminatif," sambungnya.

Mantan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat itu menyebut isu khilafah cuma dijadikan jualan menjelang Pilpres 2019.

 "Jendral Edi Sudrajat saja mau berkeringat mendirikan PKPI. Tentara yang sadar bahwa perjuangan demokrasi butuh alat politik yang tepat. Di saat PKPI mau karam diambil paksa Hendro, isu khilafah kembali jadi jualan," kicaunya.

"Jendral atau sipil yang ingin berkuasa namun tak punya alat politik partai, akan selalu berpikir dan bertindak konspiratif ideologis. Bernyanyi tentang Pancasila dan khilafah adalah cara menyembunyikan kelemahan," tulisnya.

Andi Arief lantas mempertanyakan siapa sebenarnya jenderal yang menciptakan ketegangan beragama di Tanah Air?

"Siapa yang menciptakan ketegangan beragama, jendral berkeringat seperti WIranto, SBY¡ Prabowo, Sutiyoso yang mendirikan Partai atau jendral yang memanfaatkan PDIP dan segelintir aktifis dan tokoh tua Islam moderat gadungan?" Tulisnya.

"Saya tidak percaya jendral modern seperti Tito Karnavian, Budi Gunawan dan Hadi Tjahyanto yang menjabat Kapolri, Ka BIN dan Panglima TNI dalam pengetahuan ideologi. Saya menduga mereka dipaksakan oleh jendral tua yang konspiratif, agar berfihak," imbuhnya.

Andi Arief kemudian menyarankan Luhut Binsar Panjaitan dan Hendropriyono jalan-jalan ke kampung-kampung miskin yang terdapat beribu penderitaan, agar menemukan ideologi sebenarnya.

"Pak Luhut dan Pak Hendro, jalanlah ke kampung-kampung miskin yang beribu penderitaan. Akan ditemukan di sana ada ideologi sebenarnya. Bukan di bawah gorong-gorong atau di atas tangga. Bukan juga ditemukan saat selfi," tulisnya

Sebelumnya, AM Hendropriyono mengklaim, bakal terjadi pertarungan antara dua ideologi berbeda saat Pemilu 2019.

"Pemilu kali ini yang berhadap-hadapan bukan saja hanya subjeknya. Orang yang berhadapan bukan hanya kubu, kubu dari Pak Jokowi dan kubu dari Pak Prabowo, bukan. Tapi ideologi," tutur Hendropriyono di Jakarta, Kamis (28/3/2019).

Hendropriyono mengatakan, yang bertarung pada Pemilu kali ini adalah ideologi Pancasila berhadapan dengan khilafah.

Dirinya meminta masyarakat harus mulai menentukan pilihan dan memahami calon pemimpin yang dipilih pada Pemilu 2019.

"Bahwa yang berhadap-hadapan adalah ideologi Pancasila berhadapan dengan ideologi khilafah. Tinggal pilih yang mana. Rakyat harus jelas mengerti. Bahwa dia harus memilih yang bisa membikin dia selamat," ujar Hendropriyono.

Hendropriyono menjelaskan, selama ini ideologi Pancasila telah membawa kemajuan bagi Bangsa Indonesia yang memiliki keanekaragaman budaya.

Dirinya mengungkapkan, ideologi khilafah sudah tidak berfungsi sejak abad ke-13, yakni pada tahun 1258.

Menurut Hendropriyono, negara-negara Islam dan Arab sekalipun lebih memilih tata negara kerajaan.

"Tidak ada lagi yang memilih khilafah ini, karena juga secara resmi sudah tidak diikuti, dibubarkan. Itu 1924," paparnya.

"Masa sekarang mau ke sana. Jangan coba-coba. Kita tahu apa yang terjadi di Suriah dan Irak adalah karena coba-coba," jelas Hendropriyono.

Hendropriyono meluncurkan draf buku karyanya yang berjudul Filsafat Intelijen Negara Republik Indonesia.

Dirinya saat ini merupakan guru besar di Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) di bidang filsafat.

Sumber: Wartakota